BELAJAR SAMA DENGAN MAKAN

Saya pikir setiap hari orang harus belajar. Kalau belajar seperti makan, maka kalau tidak makan orang tidak bisa hidup dan bertumbuh.

Hari ini saya membaca berbagai artikel yang bertalian dengan webhosting. Saya merasa banyak yang saya masih bego. Saya sadar akan kekurangan ini. Kata orang cerdik yang bego adalah orang yang merasa cerdas. Dan Orang cerdas adalah orang yang merasas dungu. Dungu sama dengan bego. Bego sama dengan Bodoh. Bodoh sama dengan tidak tahu.

Semakin banyak belajar semakin pintar seorang. Semakin pintar seorang semakin sadar bahwa masih ada banyak hal yang perlu dipelajari.  Tidak heran masih banyak orang botak yang professor itu masih terus buka buku dan merasa bego. Apakah mereka memang bodoh atau bego alias bloon. Karena nampaknya penampilan para p[rofesor itu kaya orang bego. Rendah hati dan terus tekun belajar. Mereka balajar dari mana itu kelakuan.

Orang pulo Dwipa tahu ilmu padi. Makin berisi makin merunduk. Benar juga. Lihat saja kepala profesor yang plontos dan terlampau sarat isi itu. Kepala menunduk dan terkadang komat kamit sendiri juga. Memikir dan bicara sendiri. Terkadang seperti orang gila juga. Wah-wah. Jangan begitulah. 

Tinggalkan sebuah Komentar

SINAR SURYA TIDAK SELALU INDAH

Saya dibuat terheran-heran. Bagi orang Flores itu terlalu bisa. Dan naif mengagumi hal ini. Mata hari terbit di gunung Dieng jadi obyek wisata. Sun Rise View. Dataran Dieng sangat dingin. Saya dan anak saya tidur sekamar. Karena perjalanan yang tidak terencana kami tidak punya persiapan. Anak saya pakai sandal saja. Semua perlengkapan kami tidak disiapkan untuk beristirahat di daerah sedingin Dieng. Anak saya harus menyewa sepatu.   Sebuah kamar hotel dengan selimut berbulu halus tidak bisa dinikmati. Terlalu dingin. Saya tidur dengan menumpangkan kepala diatas kedua telapak tangan  dengan membungkuk seperti binatang berkaki empat mau buang hajat.

Pagi sekali kami mengikuti rombongan melintasi kebun kentang dan menuju puncak gunung yang tidak terlalu tinggi. Dalam waktu kurang sejam kami sudah sampai puncak. Hari masih gelap. Kami harus berada di puncak sebelum matahari terbit. Karena tujuan untuk melihat matahari pagi pertama kali memancarkan sinarnya.  Seorang wistawan asing dengan bertopang dagu duduk diatas sebuah batu menunggu saat yang dicari. Sinar merah sang surya tiba menyembur dari balik gelombang awan.  Gumpalan awan perlahan berubah warnah menjadi merah lembayung. Gelombang-gelombang awan secara perlahan berubah dan terus berubah sampai tiba-tiba dalam waktu pancaran sinar menyembul dari selimut awan.  Matahari telah terbit. Sang Surya telah tiba menyinari bumi. Dan itu yang dikatakan keindahan.

Saya lalu ingat di pantai Mauromba. Kami selalu menikmati sembuiran sinar surya dari balik Ngadu Tangi dan Pulau Ende.  Sebuah pemandangan yang biasa dan terlalu biasa.

Di Bali juga orang digiring untuk sebuah pemandangan matahari terbenam. Sun Set View. Wisatawan manca Negara dan Domestik juga mengaguminya. Betapa indahnya Surya bersinar sebelum tenggelam dalam kekelaman malam.

Sinar Surya tidak terasa indah di negeriku Flores. Karena orang Flores tidak mengaguminya. Terlalu biasa dan mudah didapat. Nilai ekonomipun tiada. Keindahan mungkin sama dengan selera tidak bisa diperdebatkan. Surya sama bersinar tetapi tidak semua menikmati keindahannya.

Tinggalkan sebuah Komentar

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Komentar (1)